remaja dan hubungan seksual pranikah
Remaja kota kini semakin berani melakukan hubungan seksual pranikah. Nampaknya hal itu berkaitan dengan hasil sebuah penelitian, 10 - 12%
remaja di Jakarta pengetahuan seksnya sangat kurang. Ini
mengisyaratkan pendidikan seks bagi anak dan remaja secara intensif
terutama di rumah dan di sekolah, makin penting.
Pengetahuan yang setengah-setengah justru lebih berbahaya ketimbang
tidak tahu sama sekali. Kata-kata bijak ini nampaknya juga berlaku
bagi para remaja tentang pengetahuan seks kendati dalam hal ini
ketidaktahuan bukan berarti lebih tidak berbahaya. Data yang
dikumpulkan dr. Boyke Dian Nugraha, DSOG, ahli kebidanan dan penyakit
kandungan pada RS Dharmais, menunjukkan 16 - 20% dari remaja yang
berkonsultasi kepadanya telah melakukan hubungan seks pranikah. Dalam
catatannya jumlah kasus itu cenderung naik; awal tahun 1980-an angka itu
berkisar 5 - 10%.
Sementara itu Dra. Yulia S. Singgih Gunarsa, psikolog dan konselor di
sebuah sekolah swasta di Jakarta, juga melihat fenomena banyaknya
pasangan remaja yang berhubungan dengan calo jasa pengguguran
kandungan di Jakarta Pusat dan penggunaan obat-obat pencegah kehamilan.
Data tersebut mungkin tidak mewakili kenyataan sebenarnya, yang bisa
menunjukkan angka lebih tinggi atau lebih rendah. Namun setidaknya
kasus hubungan seksual pranikah itu ada hubungannya dengan hasil
suatu penelitian para dokter di Jakarta. Seperti dikutip Boyke, 10 -
12% remaja di Jakarta pengetahuan seksnya sangat kurang.
Dalam kaitan dengan hubungan seksual, bisa diambil contoh ada remaja
yang berpendapat, kalau hanya sekali bersetubuh, tidak bakal terjadi
kehamilan. Atau, meloncat-loncat atau mandi sampai bersih segera
setelah melakukan hubungan seksual bisa mencegah kehamilan.
Pengetahuan seks yang hanya setengah-setengah tidak hanya mendorong
remaja untuk mencoba-coba, tapi juga bisa menimbulkan salah persepsi.
Misalnya saja, berciuman atau berenang di kolam renang
yang "tercemar" sperma bisa mengakibatkan kehamilan, mimpi basah
dikira mengidap penyakit kotor, kecil hati gara-gara ukuran penis
kecil, sering melakukan onani bisa menimbulkan impotensi.
Beberapa akibat yang tentunya memprihatinkan ialah terjadinya
pengguguran kandungan dengan berbagai risikonya, perceraian pasangan
keluarga muda, atau terjangkitnya penyakit menular seksual, termasuk
HIV yang kini sudah mendekam di tubuh ratusan orang di Indonesia.
Bandingkan dengan temuan Marlene M. Maheu, Ph.D., psikolog yang
berpraktek di Kalifornia, AS, bahwa setiap tahun terdapat 1 dari 18
gadis remaja Amerika Serikat hamil sebelum nikah dan 1 dari 5 pasien
AIDS tertular HIV pada usia remaja.
Dibentak ortu
Melihat kenyataan itu, pendidikan seks secara intensif sejak dini
hingga masa remaja tidak bisa ditawar-tawar lagi. Apalagi
mengingat, "Sebagian besar penularan AIDS terjadi melalui hubungan
seksual," tegas Boyke yang juga pengasuh rubrik konsultasi seks di
majalah dan radio. Kalau tidak, mereka yang kini remaja tidak bisa
berbuat banyak saat memasuki usia produktif di abad XXI mendatang.
Seperti dikutip Boyke, survai oleh WHO tentang pendidikan seks
membuktikan, pendidikan seks bisa mengurangi atau mencegah perilaku
hubungan seks sembarangan, yang berarti pula mengurangi tertularnya
penyakit-penyakit akibat hubungan seks bebas.
Disebutkan pula, pendidikan seks yang benar harus memasukkan unsur-
unsur hak azasi manusia. Juga nilai-nilai kultur dan agama
diikutsertakan di dalamnya sehingga akan merupakan pendidikan akhlak
dan moral juga. Dengan itu diharapkan angka perceraian yang berdampak
kurang baik terhadap anak-anak pun dapat dikurangi.
Hanya yang jadi soal hingga kini, "Pendidikan seks di Indonesia masih
mengundang kontroversi. Masih banyak anggota masyarakat yang belum
menyetujui pendidikan seks di rumah maupun di sekolah," tutur dr.
Gerard Paat, kolsultan keluarga RS Sint Carolus.
Sekalipun untuk tujuan pendidikan, anggapan tabu untuk berbicara soal
seks masih menancap dalam benak sebagian masyarakat. Akibatnya, anak-
anak yang berangkat remaja jarang yang mendapat bekal pengetahuan
seks yang cukup dari ortu (orang tua). Padahal tidak jarang para
remaja sendiri yang berinisiatif bertanya, tapi justru sering
disambut dengan "kemarahan" ortu. "Boro-boro mau ngejelasin soal
seks, baru nanya sedikit aja, nyokap (ibu) sudah mbentak, 'Eh itu
tabu, jangan diomongin!'" aku seorang remaja putri.
Bahkan anak-anak yang kedua orang tuanya bekerja rata-rata kehilangan
panutan. "Orang tua yang mestinya menjadi tokoh panutan utama, justru
kurang berperan karena kesibukan mereka sendiri," kata dr. Paat, yang
sejak akhir tahun 1960-an memberikan penyuluhan seks di sekolah dan
luar sekolah.
Film, buku, dan motel
Dampaknya tentu bisa ke mana-mana. Antara lain dalam memilih konsumsi
tontonan di TV yang masih berat dengan tayangan film barat dengan
budaya dan gaya hidup yang berbeda. Kehidupan dunia barat yang
digambarkan dalam film ataupun video, menurut Boyke, sering kali
menunjukkan kehidupan seks bebas di kalangan remaja. Tayangan serial
macam Beverly Hills atau Bay Watch, Boyke menyebut contoh, dengan
bintang-bintang molek dan tampan itu mudah sekali merasuk ke dalam
benak remaja. Sehingga mereka bisa amat mudah meniru gaya hidup muda-
mudi dalam film itu.
"Justru ketika informasi seperti itu tidak bisa kita hindari, peranan
orang tua untuk memberikan pengertian yang benar pada anak-anak
menjadi penting," tutur Boyke.
Minimnya pengetahuan seks masih ditambah lagi dengan mudahnya
mendapatkan prasarana untuk melakukan seks bebas seperti di motel,
cottage, vila; alat kontrasepsi; lebih mudanya rata-rata gadis
mendapatkan haid (9 - 11 th); serta tertundanya usia perkawinan.
Semua itu juga faktor yang ikut mempengaruhi remaja melakukan
kegiatan seks bebas dan kumpul kebo.
Celakanya, "Remaja yang sudah terbiasa mengadakan hubungan seksual
akan sulit menghentikannya," jelas Paat. Itu bukan semata-mata karena
faktor ketagihan, tapi terutama akibat timbulnya persepsi bahwa
melakukan hubungan seksual sudah merupakan hal biasa.
Dr. Gerard Paat
Kalau itu sampai terjadi, ortu harus ikut bertanggung jawab. "Orang
tualah yang seharusnya pertama-tama memberikan pengetahuan seks bagi
anak-anaknya. Informasi seks dari teman, film, atau buku, yang hanya
setengah-setengah tanpa pengarahan, mudah menjerumuskan. Apalagi
kalau si anak tidak tahu risiko melakukan hubungan seksual pranikah,"
kata Boyke.
Menurut Paat, pendidikan seks pasif, karena tanpa komunikasi dua arah
semacam itu, sudah bisa mempengaruhi sikap serta perilaku
seseorang. "Dalam pendidikan seks anak tidak cukup hanya melihat dan
mendengar sekali-dua kali, tapi harus dilakukan secara bertahap dan
berkelanjutan," katanya. Sebab itu, pendidikan seks hendaknya menjadi
bagian penting dalam pendidikan di sekolah. Orang tua dan pendidik
wajib meluruskan informasi yang tidak benar disertai penjelasan
risiko perilaku seks yang salah.
Namun, pendidikan seks di sekolah mestinya hanya pelengkap pendidikan
seks di rumah. Bukan justru menjadi yang utama seperti terjadi selama
ini, kendati pendidikan seks di sekolah, menurut beberapa pengamat
tadi, masih belum optimal.
Pacaran jangan dilarang
Pemberian pengetahuan seks mesti di rumah dilakukan sejak dini dan
dimulai dengan perilaku keseharian anak-anak. Ketika masih anak-anak
misalnya, berikan pengertian kepada mereka agar tidak ke luar dari
kamar mandi sambil telanjang, menutup pintu kamar mandi ketika sedang
mandi, mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk kamar ortu.
Ketika sudah menginjak bangku SD, remaja putri khususnya, mesti sudah
dipersiapkan menghadapi masa akil balik. Pada usia sekitar 14 tahun,
remaja putri maupun putra rata-rata mulai ingin tahu segala sesuatu
tentang lawan jenisnya. "Ini merupakan proses pendewasaan diri, dan
tak bisa dicegah," tegas Boyke. Di sinilah ortu mesti mulai lebih
sering mengadakan pendekatan dan memasukkan nilai-nilai moral kepada
anak.
Pada saat mereka mulai berpacaran di usia yang sudah cukup, kata
Boyke, tak perlu dilarang-larang. Berpacaran merupakan latihan
pendewasaan dan pematangan emosi. Dengan berpacaran mereka bisa
merasakan rasa rindu atau rasa memiliki, dan berlatih bagaimana harus
ber-sharing dengan pasangan. Pada masa ini orang tua remaja putri
hendaknya berperan menjadi teman berdiskusi sambil meneliti siapa
pacarnya itu.
Dalam hal ini dibutuhkan komunikasi lebih terbuka antara ortu-anak.
Melalui komunikasi, yang acap kali banyak diabaikan peranannya, ortu
dapat memasukkan hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Misalnya, batas mereka boleh bermesraan dan apa konsekuensinya kalau
batas itu dilanggar. Kepercayaan dari ortu akan membuat mereka lebih
bertanggung jawab.
Berpacaran secara sembunyi-sembunyi akibat tidak diberi kepercayaan
justru tidak menguntungkan. "Ingat, kasus-kasus kehamilan pranikah
umumnya dilakukan oleh mereka yang back street," kata Boyke. "Mungkin
juga akibat hubungan dengan orang tua kurang akrab atau orang tua
terlalu kaku."
Dr. Paat maupun dr. Boyke menyatakan, penjelasan mengenai risiko
melakukan hubungan seksual pranikah perlu ditekankan. Umpamanya,
kehamilan, kemungkinan terinfeksi HIV atau tertular penyakit kelamin
kalau bergonta-ganti pasangan. Bila terjadi kehamilan dan kandungan
terpaksa digugurkan, mereka menghadapi kemungkinan perdarahan,
infeksi, kemandulan, bahkan kematian. Belum lagi stres atau rasa
berdosa yang bakal dihadapi si anak. Juga diingatkan, dengan anak
yang mereka lahirkan di luar nikah, mereka juga yang mesti
bertanggungjawab sebagai ayah dan ibunya. Jangan lupa pula, "Jagalah
agar jiwa mereka tidak banyak terganggu, apalagi selama mereka masih
belum dewasa, masih harus sekolah, dan lain-lain," tambah Yulia.
Kapan saja, di mana saja
Penjelasan yang baik mampu membuka mata mereka betapa melakukan
hubungan seksual pranikah itu tidak ada untungnya. Ini misalnya
terbukti ketika dr. Boyke membagikan kuesioner kepada peserta seminar
remaja. Jawaban mereka sebelum dan sesudah mendengarkan ceramah
bertolak belakang. Sebelum seminar, mereka rata-rata menyetujui
hubungan seksual sebelum nikah. Tapi sesudahnya, 90% peserta
menyatakan tidak setuju. Juga terungkap, mereka setuju adanya
pendidikan seks, hanya tidak tahu harus ke mana memperolehnya.
Penyampaian materi pendidikan seks di rumah sebaiknya dilakukan kedua
orang tua. "Sebelum usia 10 tahun pendidikan bisa diberikan secara
bergantian, tapi umumnya ibu yang lebih berperan," kata Paat.
Menjelang akil balik, saat sudah terjadi proses diferensiasi jenis
kelamin dan mulai muncul rasa malu (pada wanita mengalami haid,
pertumbuhan payudara, dan pada laki-laki mengalami mimpi basah dan
perubahan suara), sebaiknya ibu memberi penjelasan kepada anak
perempuan dan ayah kepada anak laki-laki. "Sekali waktu boleh
diadakan komunikasi silang. Misalnya, kepada anak perempuannya
seorang ayah dapat berdiskusi bagaimana perasaan-perasaan pria bila
jatuh cinta, atau sebaliknya kepada anak laki-lakinya, ibu bisa
mengungkapkan bagaimana perasaan seorang wanita bila didekati pria."
Menjelaskan tentang seks juga tidak perlu secara eksklusif. Itu bisa
dilakukan kapan saja dan di mana saja. Saat sedang sibuk memasak,
misalnya, tiba-tiba si anak bertanya tentang kehamilan. Sang ibu
tidak perlu menangguhkan jawaban atau menjanjikan jawaban akan
diberikan panjang lebar di kamar, tapi bisa langsung saat itu juga.
Tindakan eksklusif, menurut Paat, malah membuat si anak bisa
berkesimpulan, seks merupakan sesuatu yang luar biasa dan harus
dirahasiakan. Padahal pertanyaan seperti itu lumrah dan merupakan
bagian dari kehidupannya.
"Kalau anak kita sama sekali tidak pernah bertanya soal seks, jangan
dikira pasti beres. Coba pancinglah dengan buku," jelas
Paat. "Keterangan dalam buku yang kurang jelas bisa didiskusikan
dengan orang tua," tambah Boyke.
Di RT pun bisa
Pendidikan seks di sekolah, demikian Yulia dan Paat, hendaknya tidak
terpisah dari pendidikan pada umumnya, dan bersifat terpadu. Ia bisa
dimasukkan ke dalam pelajaran ilmu biologi, kesehatan, moral dan
etika secara bertahap dan terus menerus. Mereka juga mensyaratkan
penekanan pada pendidikan moral, meski tidak perlu sedetail
pendidikan agama, agar pendidikan seks diterima murid sebagai suatu
ilmu yang tidak untuk dipraktekkan sebelum waktunya.
Sekali waktu penyuluhan seks juga perlu diadakan. Misalnya, soal
menghadapi masa haid dan mimpi basah bisa diberikan kepada anak kelas
VI SD, proses terjadinya bayi (spermatozoa bertemu dengan sel telur)
mulai diberikan kepada murid SLTP. Selanjutnya masalah kebebasan
seks, alat kontrasepsi sampai hubungan seks (bukan tekniknya)
diberikan kepada anak SLTA.
Menurut Yulia, penjelasan tentang program pendidikan seks yang hendak
disampaikan kepada murid perlu juga diketahui orang tua murid.
Maksudnya, agar mereka bisa memberi jawaban dan tidak terkejut bila
tiba-tiba si anak atau remaja bertanya soal seks kepada
mereka. "Karena, kadang-kadang ada anak yang dengan begitu bangga
bercerita tentang pengetahuan seks yang baru diberikan di sekolah,"
tutur Yulia.
Dr. Paat dan dr. Boyke saling berbeda pendapat dalam soal penyampaian
informasi tentang alat kontrasepsi. "Alat kontrasepsi macam kondom
bukan rahasia lagi, karena dapat dibeli di mana-mana. Yang penting,
mereka diberi penjelasan bahwa pemakaian sebelum menikah merupakan
pelanggaran nilai-nilai moral dan agama," kata Paat. Sedangkan Boyke
kurang setuju memperkenalkan pemakaiannya kepada remaja, karena
khawatir disalahgunakan.
Lebih tepat, kata Paat, kalau tema penyuluhan didasarkan pada
pendekatan pemecahan masalah (problem solving approach), yakni
penyuluhan disertai kesempatan berkonsultasi dengan guru, konsultan
psikologi di sekolah, atau guru agama. Pasalnya, masalah yang
dihadapi setiap murid berbeda-beda.
Dalam hal ini Dra. Yulia menganggap penting peran guru bimbingan dan
penyuluhan (BP). Guru-guru ini tak cuma sebagai guru BP, tapi juga
mesti tahu soal pendidikan seks. "Kadang-kadang murid segan bertanya
kepada orang tua. Atau, pernah bertanya malah dimarahi bapak atau
ibunya," jelas Yulia. Dengan adanya kesempatan berkonsultasi, si anak
bisa mengutarakan masalah pribadinya.
Selain di sekolah, "Di tingkat RT pun sebetulnya bisa sekali waktu
diselenggarakan ceramah tentang seks bagi para orang tua atau remaja
dengan bantuan dokter Puskesmas untuk mengisi kekosongan itu," kata
Boyke.
Usul itu boleh juga. Bagaimanapun pendidikan seks bukan semata-mata
tanggung jawab orang tua dan pendidik, tetapi juga masyarakat.
(Nanny Selamihardja/I Gede Agung Yudana)
by :Ida arimurti