« Home

arti sahabat



Persahabatan Itu Penting

AWAL sekolah nih. Teman penting banget untuk membantu kita melewati hari-hari. Apalagi sahabat. Tanpa sahabat hidup tak akan terasa indah. Tapi gara-gara sahabat pula, hidup kita bisa bertambah suram.

SEBENARNYA, apa sih arti sahabat bagi kita? Bagi sebagian orang sahabat dapat berarti orang yang bisa dipercaya dan diandalkan. "Seseorang yang dapat membantu dan mengerti kita, begitu juga sebaliknya," ungkap Manda, seorang siswi SMA Cakra Buana, Jakarta. Hortacsu dalam risetnya yang berjudul "Target Communication During Adolesence" mengatakan bahwa dalam berteman kebutuhan utama remaja adalah berbagi minat. Tapi kemudian semakin lama kebutuhan itu berkembang menjadi kebutuhan berbagi beban pikiran, perasaan, dan juga rahasia. Seperti ceritanya Ramdan, seorang siswa di SMA Negeri 65, Jakarta, "Awal pertemanan gue yaitu waktu sekelas di kelas satu SMA. Terus suka nge-band bareng. Kita sama-sama suka aliran musik rock. Akhirnya kita suka jalan bareng dan sering curhat."

Yupe, dengan hadirnya seorang teman dekat, kita enggak akan pernah merasa kesepian. Wah, ternyata kalau dipikir-pikir seorang sahabat adalah manusia super juga ya! Dia bisa membuat hidup kita menjadi lebih mudah dan lebih berwarna! Lebih dari itu, melalui sahabat kita bisa bercermin, sebenarnya orang yang seperti apakah kita? "Masa remaja adalah masa pencarian jati diri, dan sahabat bisa membantu mereka untuk menemukan identitas sosialnya melalui interaksi dalam peer group," kata Dra Ratna Djuwita Dipl Psych, seorang pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Untuk para cewek, fungsi sahabat lebih emosional dan lebih dalam. Karena cewek-cewek lebih senang membagi cerita dan rahasianya kepada sang sahabat. Cewek cenderung menginginkan kehadiran "fisik" sang sahabat di sampingnya. Sedangkan untuk cowok fungsi sahabat ini lebih ke orang yang bisa jalan bareng dan hang out bareng.

"Single fighter"

Meskipun punya sahabat itu penting untuk kita di usia remaja, ada juga yang ke mana-mana selalu terlihat sendirian. Pokoknya single fighter banget deh! Apa mereka enggak membutuhkan teman? Well, kadang itu bukan berarti mereka enggak membutuhkan teman. "Hal tersebut bisa merupakan efek dari orangtua yang terlalu protektif sehingga anak-anak tidak mengetahui bagaimana cara bergaul. Akhirnya mereka tumbuh jadi remaja yang terbiasa sendiri dan sudah cukup nyaman dengan hanya ber-’solo karier’ dalam pergaulan," jelas Bu Ratna. Kemungkinan lainnya adalah seseorang sudah terbiasa dengan aturan-aturan sosial tertentu (di luar negeri contohnya) lalu ketika dia pindah, dia merasa sulit untuk beradaptasi dengan lingkungannya yang baru. Jadilah dia sendirian melanglang buana.

Terus ada bedanya enggak sih orang yang tumbuh bersama sahabatnya dengan yang happy sendirian saja? Bu Ratna mengiyakan, "Yang jelas terlihat berbeda adalah kemampuan sosialnya. Orang yang mempunyai sahabat akan cenderung lebih mudah berinteraksi dengan orang lain dibandingkan dengan orang yang penyendiri."

Orang-orang supel ini akan lebih terlatih untuk menghadapi bermacam-macam karakter orang karena ia sudah terlatih untuk melakukannya. Sementara orang yang sendirian akan cenderung menuntut orang lain yang beradaptasi dengan karakternya. Itu disebabkan si penyendiri hanya mempunyai satu jenis respons terhadap berbagai macam jenis sifat. Misalnya kalau orang yang supel bisa membuat si pemalu merasa lebih nyaman ngobrol dengannya. Sementara si penyendiri cenderung terus diam ketika berada di tengah orang-orang yang mempunyai karakter yang berbeda. Dilihat dari dua kenyataan tersebut, rasanya lebih menyenangkan menjadi orang yang fleksibel ya!

Sahabat dan konflik

Sebenarnya bersahabat itu enggak susah kok! Tapi di dalam hubungan antara dua individu yang berbeda, kayaknya enggak mungkin bisa berjalan mulus begitu saja. Biar hanya sedikit, konflik pasti muncul. Begitu juga dalam persahabatan. Masalah yang memicu berantem pun macam-macam. Mulai dari urusan gebetan, rahasia yang bocor, gosip, sampai masalah sepele seperti celetukan-celetukan yang "enggak pada tempatnya". Apa sih yang biasanya diributin para cowok? "Dulu pernah ada konflik di antara dua sobat gue. Mereka memperebutkan satu cewek. Berhasil diselesaikan kok. Kita diskusi ramai-ramai. Akhirnya mereka berdua sama-sama ngalah. Enggak ada yang dapetin cewek itu," kata Ramdan.

Sementara masalah yang biasa dihadapi Manda dan teman-temannya berbeda. "Gara-garanya ada salah paham. Biasanya konflik itu timbul gara-gara teman ingkar janji, lupa janji, atau ngomong nyakitin. Cuma denger teman ngomong, ’Ya elah gitu doang’, atau ’Gue juga bisalah’, kayaknya sudah cukup bikin nyolot deh kalau sering diomongin," jelas Manda. Biasanya, problem yang biasa dihadapi Manda and the gang-nya ini kelar ketika salah satu mengalah duluan.

Karena konflik enggak bisa dihindari, makanya penting kalau kita tahu bagaimana cara mengantisipasinya supaya masalah enggak berkepanjangan! Nah, ternyata ada perbedaan antara cewek dan cowok dalam menghadapi konflik persahabatan. "Gue punya beberapa teman dekat. Ketika kita sedang ada konflik, kita lebih menceritakan di mana keberatannya. Nanti dibahas," cerita Ramdan. Ternyata cowok punya kecenderungan untuk memilih menghadapi masalah secara langsung.

Gimana dengan cewek? "Cewek cenderung menyampaikan unek-unek di hatinya secara enggak langsung. Tapi seringnya informasi yang disampaikan menjadi kurang lengkap dan akhirnya masalah bukannya selesai tapi malah jadi berlarut-larut," ungkap Bu Ratna.

Ini juga diakui oleh Manda. "Kita sampai diam-diaman cukup lama. Tapi akhirnya aku yang minta maaf duluan," katanya. Makanya enggak heran kebanyakan cewek kalau lagi ngambek dengan teman-temannya sering "perang dingin", adu gengsi enggak saling tegur, enggak menelepon atau menyapa selama berhari-hari.

"Dalam menyelesaikan konflik ini lebih baik kita bertindak asertif, yaitu mengatakan dengan jujur di mana permasalahannya secara baik-baik," tambah Bu Ratna. Segalanya bisa diomongin dengan baik, kan?

Belajar toleran

Banyak hal-hal positif yang bisa kita dapatkan dalam bersahabat. Di antaranya kita jadi belajar untuk menghargai orang lain, belajar bertoleransi dan bekerja sama. Lewat sahabat ini kita juga menjadi lebih mengetahui tentang diri kita sendiri. "Gue merasa tambah dewasa dalam mengambil keputusan, terus gue jadi enggak emosian. Gue punya orang yang bisa dimintai saran. Gue enggak lagi suka berantem. Karena ada teman-teman yang nasehatin. Padahal, waktu SMP gue sering berantem, lho," cerita Ramdan.

Tapi jangan kira enggak ada sisi negatif dalam pertemanan karena peer group yang enggak baik akan bisa membawa kita menjadi enggak baik pula. Jangan remehkan kekuatan aturan dan norma yang berlaku dalam hubungan peer group. "Bagi remaja, sahabat adalah segala-galanya. Malah terkadang lebih baik untuk menyalahi nilai-nilai yang dianutnya daripada tidak mengikuti nilai-nilai dalam peer group," jelas Bu Ratna.

Jadi bisa saja seseorang bisa saja sudah merasa tidak nyaman dengan hal-hal yang terjadi dalam peer group-nya, namun ia tidak berdaya untuk menolaknya. "Gue jadi suka ikut-ikutan teman. Diajak bolos, gue mau. Nilai-nilai gue juga turun. Soalnya gue kebanyakan main," curhat Ramdan. Dalam lingkup yang lebih luas, efek social pressure ini juga bisa enggak baik. Misalnya saja gencet-gencetan dalam lingkungan sekolah. Orang yang sebenarnya enggak suka menggencet akhirnya jadi penggencet karena teman-temannya suka menggencet adik kelas. Emang sih ini bikin para adik kelas lebih solid dalam angkatannya. Tapi, efek negatifnya para adik kelas ini akhirnya jadi angkatan penggencet karena unsur balas dendam.

Parahnya lagi gara-gara menuruti aturan kelompok, hal-hal negatif ini akhirnya dipandang sebagai sesuatu yang wajar sehingga enggak ada yang merasa bersalah. Padahal bisa saja ada orang lain yang merasa terteror dan akhirnya terjebak masa depan suram! Seperti, kecanduan narkoba gara-gara disuruh teman. Waduh! Jelas ini harus dihentikan! Bukannya lebih enak kalau kita semua berteman dalam suasana yang happy ya?

Terus, gimana caranya supaya kita enggak terjerumus pertemanan tidak sehat ini? Bu Ratna punya jurus ampuh. Caranya adalah tetap kritis dalam memandang segala hal termasuk hubungan pertemanan kita sendiri. Jangan mau ikut-ikutan saja! Jangan hanya karena kita sudah susah payah masuk ke suatu geng yang populer, kita merasa terpaksa melakukan hal-hal yang enggak kita suka karena kita enggak mau dibilang "cupu" atau "enggak asyik".

Hey guys, ada hal-hal yang enggak bisa ditolerir, bahkan dalam pertemanan. Misalnya narkoba. Jadi kalau ada sahabat kita yang menawarkannya, hanya satu jawabannya: No!

So, pastikan kita enggak salah pilih teman. Dan mumpung kita sebentar lagi memasuki "episode" baru dalam tahun ajaran baru, bertemanlah sebanyak mungkin karena persahabatan itu indah!

NINA SETIAWATI/ TRINZI MULAMAWITRI/ EKA ALAM SARI Tim MUDA (www.kompas.com)

Previous posts