Saturday, November 25, 2006

Gejala-Gejala Pemakaian Narkoba Yang Berlebihan

Gejala-Gejala Pemakaian Narkoba Yang Berlebihan

1. Opiat (heroin, morfin, ganja)
- perasaan senang dan bahagia
- acuh tak acuh (apati)
- malas bergerak
- mengantuk
- rasa mual
- bicara cadel
- pupil mata mengecil (melebar jika overdosis)
- gangguan perhatian/daya ingat

2. Ganja
- rasa senang dan bahagia
- santai dan lemah
- acuh tak acuh
- mata merah
- nafsu makan meningkat
- mulut kering
- pengendalian diri kurang
- sering menguap/ngantuk
- kurang konsentrasi
- depresi

3. Amfetamin (shabu, ekstasi)
- kewaspadaan meningkat
- bergairah
- rasa senang, bahagia
- pupil mata melebar
- denyut nadi dan tekanan darah meningkat
- sukar tidur/ insomnia
- hilang nafsu makan

4. Kokain
- denyut jantung cepat
- agitasi psikomotor/gelisah
- euforia/rasa gembira berlebihan
- rasa harga diri meningkat
- banyak bicara
- kewaspadaan meningkat
- kejang
- pupil (manik mata) melebar
- tekanan darah meningkat
- berkeringat/rasa dingin
- mual/muntah
- mudah berkelahi
- psikosis
- perdarahan darah otak
- penyumbatan pembuluh darah
- nystagmus horisontal/mata bergerak tak terkendali
- distonia (kekakuan otot leher)

5. Alkohol
- bicara cadel
- jalan sempoyongan
- wajah kemerahan
- banyak bicara
- mudah marah
- gangguan pemusatan perhatian
- nafas bau alkohol

6. Benzodiazepin (pil nipam, BK, mogadon)
- bicara cadel
- jalan sempoyongan
- wajah kemerahan
- banyak bicara
- mudah marah
- gangguan pemusatan perhatian

Tanda-Tanda Kemungkinan Penyalahgunaan Narkotika dan Zat adiktif

a. Fisik
- berat badan turun drastis
- mata terlihat cekung dan merah, muka pucat, dan bibir kehitam-hitaman
- tangan penuh dengan bintik-bintik merah, seperti bekas gigitan nyamuk dan
ada tanda bekas luka sayatan. Goresan dan perubahan warna kulit di tempat
bekas suntikan
- buang air besar dan kecil kurang lancar
- sembelit atau sakit perut tanpa alasan yang jelas

b. Emosi
- sangat sensitif dan cepat bosan
- bila ditegur atau dimarahi, dia malah menunjukkan sikap membangkang
- emosinya naik turun dan tidak ragu untuk memukul orang atau berbicara kasar
terhadap anggota keluarga atau orang di sekitarnya
- nafsu makan tidak menentu

c. Perilaku
- malas dan sering melupakan tanggung jawab dan tugas-tugas rutinnya
- menunjukkan sikap tidak peduli dan jauh dari keluarga
- sering bertemu dengan orang yang tidak dikenal keluarga, pergi tanpa pamit
dan pulang lewat tengah malam
- suka mencuri uang di rumah, sekolah ataupun tempat pekerjaan dan menggadaikan
barang-barang berharga di rumah. Begitupun dengan barang-barang berharga
miliknya, banyak yang hilang
- selalu kehabisan uang
- waktunya di rumah kerapkali dihabiskan di kamar tidur, kloset, gudang, ruang yang
gelap, kamar mandi, atau tempat-tempat sepi lainnya
- takut akan air. Jika terkena akan terasa sakit – karena itu mereka jadi malas mandi
- sering batuk-batuk dan pilek berkepanjangan, biasanya terjadi pada saat gejala
“putus zat”
- sikapnya cenderung jadi manipulatif dan tiba-tiba tampak manis bila ada maunya,
seperti saat membutuhkan uang untuk beli obat
- sering berbohong dan ingkar janji dengan berbagai macam alasan
- mengalami jantung berdebar-debar
- sering menguap
- mengeluarkan air mata berlebihan
- mengeluarkan keringat berlebihan
- sering mengalami mimpi buruk
- mengalami nyeri kepala
- mengalami nyeri/ngilu sendi-sendi

Friday, November 24, 2006

Adakah Pacaran Yang Islami?

Pacaran Islami???

Pacaran sebuah kata yang sangat menarik untuk dibicarakan. Sekan tak ada usainya, sepanjang roda dunia ini masih berputar. Pro-kontra mengenainya pun sudah ada sejak pacaran itu sendiri ada, yang menurut saya sudah ada sejak diciptakannya Hawa –ibu bangsa manusia. Adalah hal yang wajar bagi generasi muda untuk selalu ingin tahu tentang segala sesuatu, bahkan akan menjadi aneh bila orang muda tidak ingin banyak tahu. Demikian juga tentang pacaran, generasi muda Islam saat ini pun seringkali menanyakan hal pacaran. Namun kebanyakan yang ditanyakan adalah mengenai fikih pacaran. Intinya kebanyakan mereka bertanya, “Sebenarnya boleh tidak sih, pacaran itu?�? atau, “Ada tidak sih pacaran yang Islami itu?�? dan pertanyaan lain yang senada. Jawaban sang ustadz pun berbeda-beda. Ada yang dengan keras melarang dengan mengatakan “Pacaran itu haram!�? ada juga yang agak “remang-remang�? boleh lah asal tidak kebangetan. Namun saya sangat tertarik dengan jawaban Ustadz Wijayanto mengenai pertanyaan ini. Beliau menjawab pertanyaan itu dengan jenaka dan diplomatis, “Dalam Islam tidak ada larangan maupun anjuran untuk berpacaran. Tidak ada dalil yang mengatakan ‘wala pacaranu inna pacaranu minassyayatiin’ atau ‘fapacaranu, inna pacaranu minattaqwa’ .�? Saya sepakat mengenai hal ini, karena memang pacaran itu sendiri tidak jelas definisinya. Cobalah Anda tanya pada beberapa anak SMP atau SMA dari berbagai komunitas dan kelompok. Pasti akan muncul berbagai definisi berbeda mengenai pacaran. Ada yang bilang pacaran itu jalan bareng sama seseorang yang kita cintai dan mencintai kita. Wah berarti jalan bareng sama bapak ibu juga pacaran dong? Yang lain bilang pacaran itu menyepi, ngobrol berduaan dengan kekasih hati. Nah yang ini malah sering dilakukan sama Pak Ustadz dan santri-santrinya saat sepuluh hari terakhir Ramadhan, alias iktikaf. Ada juga yang bilang pacaran itu ketemu dengan orang yang kita cintai, entah rame, entah sepi, pokoknya ketemu trus ngobrol, bertukar pikiran, atau diskusi. Naah… yang ini malah mirip acaranya anak-anak TSC* saban sore tuh! Sementara yang lain bilang pacaran itu jalan bareng, makan, atau nonton, atau shopping di mall bareng kekasih hati. Yaaa… yang ini sih acaranya anak borju, kelaut aje…. So, karena gak ada definisi jelas tentang pacaran, maka hukum pacaran sendiri jadi gak bisa begitu saja diputuskan. Kata Dr. Yusuf Qardhawi jangan mudah mengharamkan sesuatu, apalagi yang belum jelas definisinya. Nah, sekarang coba kita rumuskan definisi umum pacaran, alias akan adakah benang merah yang dapat kita tarik dari timbunan terigu kebingungan kita. Atau tepatnya, kita mencoba mencari irisan dari semua himpunan definisi yang tadi udah kita cari, yang ternyata jumlahnya banyak dan beda-beda semua. Akan saya coba rumuskan bahwa pacaran itu adalah interaksi antara dua orang manusia berbeda jenis kelamin yang saling mencintai sebelum menikah. Karena dari berbagai definisi tadi yang cukup mewakili untuk disebut sebagai irisan adalah kata interaksi, saling mencintai dan berlainan jenis kelamin, serta belum menikah. Atawa kita sebut aja interaksi pra-marital dengan dasar saling ketertarikan atau saling mencintai. Nah dengan definisi ini akan mudah bagi kita untuk mengetahui hukum pacaran itu, atau adakah pacaran yang Islami itu. karena sekali lagi dalam Islam tidak pernah diatur, atau ada dalil yang melarang “pacaran�?. Yang ada dalam Islam adalah aturan-aturan dalam berinteraksi dengan manusia. Bagaimana kita berinteraksi dengan orang tua, dengan teman, guru, Nabi, semua ada aturannya dalam Islam. Interaksi yang sesuai dengan kaidah Islam berati Islami, sementara yang tidak sesuai adalah tidak Islami. Dengan definisi dasar bahwa pacaran itu adalah interaksi dan saling mencintai, maka pacaran secara dasar hukum adalah netral. Karena interaksi dalam Islam itu adalah netral, akan tergantung bentuknya. Sementara tidak ada larangan bagi umat Islam untuk mencintai lawan jenisnya. Dengan demikian sekali lagi pacaran adalah netral, tergantung bagaimana kita melakukannya. Dengan netralnya pacaran, berarti pula ada pacaran yang Islami dan ada pacaran yang tidak Islami. Lebih lanjut lagi jika kita tinjau dari segi asal kata, pacaran berasal dari kata dasar “pacar�?, yang artinya kurang lebih adalah seseorang –lawan jenis tentunya- yang kita cintai namun belum menikah dengan kita. Maka semakin jelaslah bahwa pacaran itu adalah netral. Karena sekali lagi bahwa mencintai seseorang lawan jenis adalah tidak terlarang dalam Islam. Seperti kisah Umar bin Abu Rabi’ah tentang seorang pemuda Arab yang lagi jatuh cinta, yang dilukiskan dengan begitu indah di dalam buku “Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu�?, yang terkenal itu. Baca sendiri dah kisahnya, gak kalah romantis sama kisah Romeo dan Juliet yang fiksi itu. Selanjutnya pula berati pernyataan bahwa tidak ada pacaran Islami, atau tidak ada pacaran dalam Islam itu kurang tepat. Atau lebih tepatnya, adalah sepihak pernyataan yang menyatakan tidak ada pacaran Islami itu, karena setelah kita kaji lebih lanjut, ternyata kata pacaran itu sendiri bersifat netral, seperti halnya seni. Seni dalam Islam adalah netral, tergantung bagaimana kita melakukannya, bisa jadi seni itu haram, ketika seni tersebut tidak sesuai kaidah Islam, namun juga sebaliknya. Namun kemudian muncul pandangan baru yang menyatakan tidak boleh mencintai lawan jenis sebelum menikah! Sebuah pernyataan yang agak naif dan sulit untuk dibenarkan. Selain tidak ada dalil naqli-nya, juga sangat lemah dalam logika manusiawi. Sederhana saja, Nabi memerintahkan kita “Wanita-wanita dinikahi karena kecantikannnya, hartanya, nasabnya, dan agamanya….�? dan seterusnya sampai akhir hadits. Dari potongan hadits tadi dapat kita simpulakn bahwa Nabi menyuruh kita untuk memilih wanita –dalam hal ini untuk pria- yang akan kita nikahi. Apa artinya memilih? Memilih artinya mengunakan kecendrungan –rasa- untuk memutuskan pilihan dari beberapa variabel yang ada. Misalnya saja saat Anda ingin membeli mie ayam, dari sekian banyak warung mie ayam, Anda akan memilih warung yang paling Anda sukai (baca: cintai). Adapun mengapa Anda membuat pilihan itu, akan ada banyak variabel yang membuat Anda menentukan pilihan itu. Misalnya saja karena rasanya enak, warungnya bersih, atau karena penjualnya ramah. Nah akumulasi dari variabel yang Anda jadikan ukuran itu disebut rasa, hasrat, atau cinta. Artinya Anda lebih mencintai untuk makan mie ayam di tempat X ketimbang di tempat lain. Demikian juga dalam memilih pasangan hidup, Andapun akan punya banyak variabel yang menjadi ukuran dalam menentukan pilihan Anda. Misalnya saja, Anda memilih yang cantik –ini pun akan sangat subjektif, misalnya saja cantik menurut Anda adalah yang tinngi, semampai, manja dan imut-imut serta ceria-, yang muslimah, yang kaya, atau yang anak Pak Lurah. Nah akumulasi dari kriteria yang Anda jadikan ukuran inilah yang disebut dasar cinta atau sebab cinta. Anda akan lebih mencintai seorang gadis yang cantik, muslimah, kaya, dan anaknya Pak Lurah, ketimbang gadis lain yang tidak sesuai dengan kriteria Anda ini. Artinya apa? Tidak mungkin Anda memilih seorang istri atau suami tanpa mencintainya terlebih dahulu sebelum menikah! Jika tidak, maka Anda akan segera bercerai! Kisah ini sudah ada di zaman Nabi dahulu. Dimana perceraian rumah tangga seorang sahabat terjadi karena memang sang istri tidak mencintai sang suami. Seperti dalam kisah pernikahan Tsabit bin Qais dengan Habibah binti Sahl yang terpaksa harus berakhir karena Habibah tidak mencintai Tsabit. Dan ini diperkenankan Nabi. Artinya Nabi jelas menginginkan suatu rumah tangga itu dibangun atas dasar saling cinta. Nah untuk mencegah perceraian yang cukup tragis seperti ini perlulah sebuah pernkahan itu dibangun atas dasar saling mencintai. Sebenarnya inti dari resistensi kalangan aktivis yang menolak pendapat saya adalah, bahwa mereka menganggap terobsesi pada seseorang akibat cinta mendalam itu adalah sebuah dosa. Mereka menganggap bahwa mencintai seseorang sampe gak bisa tidur, gak doyan makan, adalah sebuah big sin, dosa gedhe. Alasannya, nanti kalao ibadah ntar jadi gak ikhlas, niatnya karena si yang dicintai itu, bukan karena Allah. Ujung-ujungnya ntar bisa syirik. Whii syerem gitu. Padahal kalau mau jujur, sebenarnya bukan cuma cewek or cowok kita yang bisi bikin niat kita jadi gak bener. Ustadz, babe, nyak, engkong, encing, dosen, murabbi, temen, jamaah di masjid, semua bisa bikin kita punya niat jadi gak lurus. Bahkan anak-anak dan preman yang nongkrong di pinggir jalan dan sering godain kita, saat kita brangkat ke masjid bisa bikin kita jadi brubah niat jadi arogan dan pengen dikatain “Tuh yang ahli surga, kerjanya ke mesjid mulu!�?. Sementara di dalam hati tanpa sadar kita bilang “Ntar loe pade jadi kerak nerake, gare-gare kagak pernah jamaah di masjid, mampus loe!�?. Artinya sale besar kalo menjadikan cinta kita pada kekasih kita menjadi satu-satunya penyebab utama melencengnya niat kita. Sementara itu gak pernah ada yang bingung dan ribut melarang kita punya murabbi, dosen, guru, temen, yang juga bisa bikin niat kita melenceng. Padahal kalau mereka membaca sejarah para sahabat, seharusnya mereka tidak mempunyai pendapat seperti itu, banyak juga para sahabat yang truly, madly, deeply, loving a woman. kita simak lagi sejarahnya Abdullah bin Abu Bakar yang begitu love-nya sama Atikah sehinga saat dipaksa bercerai (yang artinya saat itu Atikah bukan apa-apanya Abdullah, tidak ada ikatan pernikahan) oleh ortunya –yang khawatir Si Abdul jadi over loving her and forget Lord- jadi seperti orgil. Suka ndomblong di depan rumah dengan tatapan kosong, ra doyan maem, bikin syair tentang rindu. Toh gak ada yang nuduh Abdullah jadi rada sesat gara-gara itu. Malah akhirnya mereka dirujukkan kembali, artinya babenya Abdul tidak ngelarang cinta mereka. Ini juga menyangkal anggapan mereka yang mengatakan boleh cinta tapi tidak boleh mengekspresikannya sebelum menikah. Buktinya Abdul juga bikin puisi cinta, dan juga ekspresi sedihnya yang jelas menunjukkan kerinduannya pada sang kekasih hati. Dengar juga komentar sang Pintu Kota Ilmu, Ali bin Abi Thalib, saat pernikahan Atikah dengan Umar bin Khattab. Minta ijin sama si suami tuk sekedar nginjen manten perempuan and bilang, “Wahai wanita yang berada di tempat yang tinggi, aku bersumpah tak akan mengalihkan pandanganku darimu agar kulitku menguning…�? what a love?!! Belum puas? Baca kisah Umar bin Abdul Aziz yang terobsesi pada seorang budak yang cantik, walaupun akhirnya dia mengembalikannya pada keluarganya. Baiknya jangan menjadi orang yang ramutu dan mengingkari fitrah dan mengada-adakan dalil yang ngelarang kita mencintai lawan jenis sebelum menikah. Bahkan Utsman bin Affan pun berkata bahwa dirinya adalah seseorang yang amat suka pada wanita. Mencintai bukanlah sebuah dosa. Dosa itu adalah ketika kita, melakukan khalwat, bersentuhan, berkata-kata dengan menggoda, dan zina itu sendiri. Jangan ghuluw dengan membuat batasan-batasan yang tidak pernah disyariatkan oleh Allah dan RasulNya. Cukuplah apa yang Allah dan rasulNya berikan. Ikatan hati sebelum nikah bukanlah sebuah dosa. Dosa adalah perbuatan yang melanggar secara hukum fikih, dan dosa urusan Allah dengan hambanya. Ikatan hati selama dalam koridor syariat tiada berdosa. Namun muncul perdebatan lain. Mencintai lawan jenis akan mengalahkan cinta kita kepada Allah. Saya pikir ini sangat subjektif. Namun dapat kita ukur dengan mudah. Caranya? Mudah saja, ketika Anda mencintai seseorang, apa yang menjadi ukuran Anda untuk mencintainya. Misalnya saja Anda mencintai seorang gadis karena dia seorang gadis muslimah dan berjibab, suka mengaji dan berdakwah, santun akhlaknya. Jelaslah bahwa Anda lebih mencintai Allah ketimbang si gadis. Karena yang menjadi ukuran Anda untuk mencintai si gadis adalah ukuran-ukuran yang telah diberikan Allah. Ketika kemudian si gadis menjadi tidak berjilbab, nakal, dan urakan, maka cinta Anda pada si gadis akan luntur, dan Anda akan bilang pada si gadis, “Kalo Loe kagak berubah, kelaut aje….�? karena si gadis sudah tidak lagi sesuai dengan ukuran-ukuran yang Anda jadikan kriteria untuk mencintainya. Jika Anda memang mencintai si gadis lebih dari Allah maka akan mudah saja. Anda akan menerima si gadis apa adanya. Entah dia ndugal, urakan, pakaian mini, gaul bebas, gak peduli! Yang penting saya cinta dia. Naaah kalau sudah begini barulah cinta ini berbahaya, dan harus segera direvisi. Lain lagi dengan seorang teman saya. Dia mencintai seorang gadis namun karena si gadis ternyata baru memenuhi sebagian dari ukuran-ukuran cintanya, maka dia berkata pada saya “Saya tidak bisa mencintainya karena dia belum sesuai dengan ketentuan Tuhan saya.�? Kemudian saya bilang, “Lo, kenapa tidak Kamu buat dia menjadi sesuai dengan syariat Tuhan, ajarin dia dong! Ajak ngaji. Kan Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu kaum kecuali dia berusaha mengubahnya.�? Dia balas menjawab, “Saya takut saya mengubahnya bukan karena Tuhan saya tetapi karena saya mencintai dia.�? Kedengarannya teman saya ini benar. Namun coba Anda renungkan lagi, sebenarnya dia berbuat itu untuk siapa? Untuk si gadis atau untuk Tuhan? Saya akan dengan mantap bilang “Jika Anda berusaha mengubah dia agar sesuai dengan syariat Tuhan, maka Anda telah berbuat untuk Tuhan!�? mengapa? Karena apa yang Anda lakukan itu agar dia sesuai dengan kehendak Tuhan arinya jelas-jelas Anda lebih mencintai Tuhan ketimbang si gadis. Jika Anda berbuat itu karena si gadis, buat apa repot-repot mengajak ngaji dan sebagainya. Karena Anda kan segera meneriama si gadis apa adanya. Entah dia sesuai atau tidak dengan aturan Tuhan. Nahhh, setelah tulisan yang panjang dan bertele-tele ini, kembali kita ke judul utama. Ada tidak sih pacaran Islami itu? Saya akan berani menjawab ada! Jadi tidak tepat kalau banyak aktivis dakwah secara “madju tak gentar�? mengkampanyekan anti pacaran. Karena memang yang namanya pacaran itu adalah sesuatu yang netral. Lebih tepat kalau aktivis dakwah mengakampanyekan secara progresif tentang aturan berinteraksi di dalam Islam. Sehingga objek dakwah menjadi lebih tahu, apa sih yang boleh dan apa sih yang tidak boleh. Bukannya menambah kebingungan yang berujung sikap menolak dakwah karena apa yang dikampanyekan tidak jelas dasar hukumnya. Gimana? Setuju? Seandainya Anda tidak setuju maka marilah kita dialogkan, mungkin saja saya banyak kekurangan referensi dan kekhilafan logika. Sesungguhnya segala sesuatu itu kembali pada-Nya. Dan hanya Dia lah Yang Maha Benar, pemilik kebenaran sejati. Kita hanya mencoba mengais setetes kebijaksanaan-Nya di tengah samudera Maha Bijak-Nya. Semoga Tuhan mengampuni semua dosa saya, Anda dan saudara kita semua. And semoga saja tulisan saya ini ada manfaatnya… ciao!!! J * (Teladan Science Club, kelompok ilmiah remaja-nya SMU N 1 Yogyakarta yang sering disamperin sama anak-anak PSG) PageSevenGreen™ 2002 (hasil dialog sore hari dg WA)

Hidup Kreatif


HIDUP KREATIF DI ZAMAN PENUH PROBLEM
Sebagian orang menguasai hidup, sebagaian lagi dikuasai hidup. Apa yang membuat berbeda?
Kemenangan dan kekalahan, semua ada disekitarmu. Bacalah koran, dengarkan pembicaraan tetangga anda, tatapkan pandangan anda ke jalan-jalan. Apa yang anda lihat adan dengarkan?
Orang-orang muncul dalam berbagai bentuk, ukuran dan kekhasannya masing-masing. Tetapi anda pasti melihat sebuah perbedaan besar. Sebagian dari meraka bahagia dan sukses, sementara sebagian lagi murung dan gagal.
Sebagian dari hari ke hari melangkah dengan penuh keyakinan, menumpuk kesuksesan demi kesuksesan, dan kebahagian demi kebahagiaan. Mereka tampak dikaruniai kekuatan khusus. Sementara sebagian lagi melangkah sepanjang 24 jam seolah-olah hidup itu adalah beban, dan lebih banyak beban akan muncul keesokan harinya.
Apakah anada orang yang melangkah maju atau lemas terkulai?
Dalam kategori apa anda menjalani hidup selama ini? Atau apakah anda masuk dalam klasifikasi ketiga dari orang-orang yang pincang sepanjang hidupnya: mereka tidak pernah sepsenuhnya sengsara, tapi juga tidak pernah bahagia; mereka tidak sepenuhnya gagal, tapi kesuksesan hampir selalu diluar jangkauan mereka; mereka tidak pernah sakit, yang cukup parah untuk dibawa ke rumah sakit tetapi penyakit kecil selalu saja menggangu kesehatan mereka.
Seberapa lama anda akan mengabaikan hukum yang membuat perbedaan yang mengejutkan di antara orang-orang?
Saya tidak perlu memberikan kata-kata yang menyakinkan anda bahwa perbedaan ini memang ada di antara umat manusia. Tetapi, jika anda salah seorang yang tidak bahagia, bukanlah fakta yang tidak dapat diragukan: anda belum memanfaatkan hukum yang membuat perbedaan itu. Karena pemanfaatan hukum yang besar inilah, apakah berupa pemakaian yang sadar atau tidak, yang menuntun kepada dunia yang sehat, makmur dan damai.

Sebuah hukum baru? Tentu saja tidak, hanya baru saja ditemukan!
Hukum Bagi Bekerjanya Proses Kreatif
Sebuah penyataan sederhana dari hukum kreatif adalah bahwa manusia dikelilingi sungai pikiran, yang ke dalamnya pemikiran-pemikiran terjatuh, dan yang tanpa henti mengubah semua pemikiran itu menjadi bentuk. Sungai ini tampak mematuhi manusia, karena hakikat-Nya adalah untuk menerjemahkan pemikiran-pemikiran manusia menjadi pengalaman. Kekuatan-Nya tak terbatas; pengetahuan-Nya tertanam cara-cara dan sarana-sarana tanpa batas; keikhlasan-Nya untuk memproduksi tanpa diikuti penentangan sedikit pun. Inilah salah satu sisi kerja Tuhan Yang Abadi.
Sekarang jika semua pemikiran-pemikiran manusia diubah menjadi pengalaman, menjadi peristiwa-peristiwa dalam hidup, maka jika menginginkan pengalaman yang sempurna, dia harus merenungkan pemikiran-pemikiran yang sempurna. Kita mungkin merasa putus asa pada suatu waktu. Tetapi inilah kunci dari sebuah kehidupan yang sempuran diluar bayangan siapa saja. Kita tidak harus membongkar pemikiran-pemikiran sempurna dari otak-otak dan imajinasi yang secara menyedihkan tidak sempurna. Pencipta tak terbatas sudah memikirkan pemikiran-pemikiran yang akan membawanya kepada kita apa yang kita inginkan. Kita hanya perlu memilih untuk membiarkan Tuhan membentuk pemikiran-pemikiran melalui diri kita.

Apa Yang Dipikirkan Para Ilmuan?
Roger Bobson bertanya kepada Charles Steinmetz, Jagoan Schenectady, jalur riset mana yang akan menunjukkan perkembangan terbesar pada lima puluh tahun mendatang. Alih-alih membahas bidang elektrik sebagaimana yang diharapkan, Steinmetz berkata bahwa dia mempercayai temuan-temuan besar akan berjalan bersama perkembangan kekuatan spiritual.
“ inilah sebuah kekuatan,” katanya, “ yang akan dibuktikan sejarah sebagai kekuatan terbesar dalam perkembangan manusia. Kita tidak pernah secara serius mempelajarinya sebagaimana yang kita lakukan pada kekuatan-kekuatan materi. Suatu hari, orang-orang yang akan belajar bahwa hal-hal yang bersifat materi tidak membawa kebahagiaan dan sedikit sekali fungsinya dalam membuat manusia menajdi kreatif dan secara personal kuat. Di masa datang, para ilmuan akan mengubah laboratorium mereka untuk mempelajari tuhan dan doa serta kekuatan-kekuatan spiritual yang masih jarang disentuh. Ketika tiba waktunya, dunia akan melihat lebih banyak kemajuan dalam sebuah generasi daripada yang pernah dilihatnya dalam empat generasi terdahulu.” Steinmetz mungkin akan berkata “empat puluh ribu tahun lalu “ dan memang benar.
Carl Jung mengakui unsur spiritual ket dia berkata bahwa dalam diri pasiennya yang berusia lebih dari 35 tahun masalah fisik dilambari oleh masalah spiritual, dan bahwa hanya mereka yang mampu memperbaiki kembali hubungannya dengan tuhan-lah yang bisa disembuhkan. karenanya,

Tuhan Berbicara Tentang Hukum Ini
Dua ribu tahun lalu tuhan mencoba untuk menunjukan bahwa seseorang tidak dapat mengetuk pintu-pintu surga dan mendapatkan pertolongan Ilahi. Dia menekankan bahwa dia datang untuk memenuhi “hukum” itu. Dia mencoba mengajarkan manusia bahwa mereka diciptakan menurut citra dan keserupaan tuhan. Dia melihat mereka terbelenggu dalam rantai-rantai keyakinan palsu, dengan mempercayai diri mereka sebagai sia-sia, sakit, miskin, jahat, di bawah penderitaan tuhan. Dia menyayangkan ketidaktahuan mereka tentang keadaan mereka sesungguhnya. Dia tahu bahwa kesengsaraan dan kebahagiaan mereka adalah akibat dari pandangan-pandangan salah terhadap diri mereka sendiri dan berkata, “ ini terjadi padamu karena kamu menyakini”. Kita tidak pernah dihukum oleh dosa-dosa kita, tetapi oleh pandangna-pandangan itu. Semua “dosa” pada akhirnya adalah penganutan pandangan_pandangan yang salah. “Ganjaran dosa adalah kematian” bukanlah ucapan hakim yang tersinggung; ia adalah pernyataan tanpa emosional dari sebab dan akibat, serupa dengan “akibat dari menyopir secara sembrono adalah kecelakaan”.

Bagaimana saya melakukannya?
- pola-pola pikiran harus dikoreksi
- belajar sambil praktik, bukan sekadar teori.

Proses Kreatif (berpikir kreatif)
o ketika anda mengizinkan tuhan yang maha kuasa memikirkan pemikiran- pemikiran kreatif-Nya melalui anda, anda sedang menggunakan proses kreatif.
o Karena tuhan hanya memikirkan pemikiran-pemikiran yang sempurna, semakin anda memasrahkan diri kepada proses itu, semakin sempurna kehidupan anda.
o Semua penyakit kehidupan berasal dari pikiran induk. Pikiran-pikiran ini adalah kepercayaan mendasar yang mendominasi pikiran anda, apakah anda menyadarinya atau tidak. Tidak ada gunanya untuk memerangi penyakit dari masalah itu, karena ketika penyakit-penyakit itu hilang pikiran induk akan mereproduksi lebih banyak penyakit lagi.
o Penyebab ketidakbahagiaan anda berada dalam diri anda. Jika anda mencoba menemukan sumber ketidakbahagiaan ditempat lain, anda sedang mencari ditempat yang salah.
o Mempunyai uang cukup adalah terserah diri anda. Jika kekurangan uang adalah sumber masalah anda, anda sedang membawa masalah itu pada diri anda sendiri, karena anda sedang membiarkan pikiran induk.
o Kegagalan mendominasi pikiran anda. Nasib baik bermula dari dalam diri anda. Percayalah anda dapat mengatasi masalah keuangan, percayalah anda akan memiliki apa yang anda butuhkan. Anda harus YAKIN, anda harus BANYAK AKAL, bawalah pikiran-pikiran tuhan kedalam otak anda dan keuangan anda akan menguat. Proses kreatif sedang bekerja untuk anda sekarang.
o KOMPETISI menjadi peluang untuk mencapai PRESTASI ketika anda mengatasi pikiran induk PERMUSUHAN dan berpikir tentang dunia sebagai tempat yang ramah dimana semua dapat tercukupi.

Thursday, November 23, 2006

remaja dan hubungan seksual pranikah

Remaja kota kini semakin berani melakukan hubungan seksual pranikah.
Nampaknya hal itu berkaitan dengan hasil sebuah penelitian, 10 - 12%
remaja di Jakarta pengetahuan seksnya sangat kurang. Ini
mengisyaratkan pendidikan seks bagi anak dan remaja secara intensif
terutama di rumah dan di sekolah, makin penting.


Pengetahuan yang setengah-setengah justru lebih berbahaya ketimbang
tidak tahu sama sekali. Kata-kata bijak ini nampaknya juga berlaku
bagi para remaja tentang pengetahuan seks kendati dalam hal ini
ketidaktahuan bukan berarti lebih tidak berbahaya. Data yang
dikumpulkan dr. Boyke Dian Nugraha, DSOG, ahli kebidanan dan penyakit
kandungan pada RS Dharmais, menunjukkan 16 - 20% dari remaja yang
berkonsultasi kepadanya telah melakukan hubungan seks pranikah. Dalam
catatannya jumlah kasus itu cenderung naik; awal tahun 1980-an angka itu
berkisar 5 - 10%.
Sementara itu Dra. Yulia S. Singgih Gunarsa, psikolog dan konselor di
sebuah sekolah swasta di Jakarta, juga melihat fenomena banyaknya
pasangan remaja yang berhubungan dengan calo jasa pengguguran
kandungan di Jakarta Pusat dan penggunaan obat-obat pencegah kehamilan.


Data tersebut mungkin tidak mewakili kenyataan sebenarnya, yang bisa
menunjukkan angka lebih tinggi atau lebih rendah. Namun setidaknya
kasus hubungan seksual pranikah itu ada hubungannya dengan hasil
suatu penelitian para dokter di Jakarta. Seperti dikutip Boyke, 10 -
12% remaja di Jakarta pengetahuan seksnya sangat kurang.


Dalam kaitan dengan hubungan seksual, bisa diambil contoh ada remaja
yang berpendapat, kalau hanya sekali bersetubuh, tidak bakal terjadi
kehamilan. Atau, meloncat-loncat atau mandi sampai bersih segera
setelah melakukan hubungan seksual bisa mencegah kehamilan.


Pengetahuan seks yang hanya setengah-setengah tidak hanya mendorong
remaja untuk mencoba-coba, tapi juga bisa menimbulkan salah persepsi.
Misalnya saja, berciuman atau berenang di kolam renang
yang "tercemar" sperma bisa mengakibatkan kehamilan, mimpi basah
dikira mengidap penyakit kotor, kecil hati gara-gara ukuran penis
kecil, sering melakukan onani bisa menimbulkan impotensi.


Beberapa akibat yang tentunya memprihatinkan ialah terjadinya
pengguguran kandungan dengan berbagai risikonya, perceraian pasangan
keluarga muda, atau terjangkitnya penyakit menular seksual, termasuk
HIV yang kini sudah mendekam di tubuh ratusan orang di Indonesia.
Bandingkan dengan temuan Marlene M. Maheu, Ph.D., psikolog yang
berpraktek di Kalifornia, AS, bahwa setiap tahun terdapat 1 dari 18
gadis remaja Amerika Serikat hamil sebelum nikah dan 1 dari 5 pasien
AIDS tertular HIV pada usia remaja.


Dibentak ortu


Melihat kenyataan itu, pendidikan seks secara intensif sejak dini
hingga masa remaja tidak bisa ditawar-tawar lagi. Apalagi
mengingat, "Sebagian besar penularan AIDS terjadi melalui hubungan
seksual," tegas Boyke yang juga pengasuh rubrik konsultasi seks di
majalah dan radio. Kalau tidak, mereka yang kini remaja tidak bisa
berbuat banyak saat memasuki usia produktif di abad XXI mendatang.


Seperti dikutip Boyke, survai oleh WHO tentang pendidikan seks
membuktikan, pendidikan seks bisa mengurangi atau mencegah perilaku
hubungan seks sembarangan, yang berarti pula mengurangi tertularnya
penyakit-penyakit akibat hubungan seks bebas.


Disebutkan pula, pendidikan seks yang benar harus memasukkan unsur-
unsur hak azasi manusia. Juga nilai-nilai kultur dan agama
diikutsertakan di dalamnya sehingga akan merupakan pendidikan akhlak
dan moral juga. Dengan itu diharapkan angka perceraian yang berdampak
kurang baik terhadap anak-anak pun dapat dikurangi.


Hanya yang jadi soal hingga kini, "Pendidikan seks di Indonesia masih
mengundang kontroversi. Masih banyak anggota masyarakat yang belum
menyetujui pendidikan seks di rumah maupun di sekolah," tutur dr.
Gerard Paat, kolsultan keluarga RS Sint Carolus.


Sekalipun untuk tujuan pendidikan, anggapan tabu untuk berbicara soal
seks masih menancap dalam benak sebagian masyarakat. Akibatnya, anak-
anak yang berangkat remaja jarang yang mendapat bekal pengetahuan
seks yang cukup dari ortu (orang tua). Padahal tidak jarang para
remaja sendiri yang berinisiatif bertanya, tapi justru sering
disambut dengan "kemarahan" ortu. "Boro-boro mau ngejelasin soal
seks, baru nanya sedikit aja, nyokap (ibu) sudah mbentak, 'Eh itu
tabu, jangan diomongin!'" aku seorang remaja putri.


Bahkan anak-anak yang kedua orang tuanya bekerja rata-rata kehilangan
panutan. "Orang tua yang mestinya menjadi tokoh panutan utama, justru
kurang berperan karena kesibukan mereka sendiri," kata dr. Paat, yang
sejak akhir tahun 1960-an memberikan penyuluhan seks di sekolah dan
luar sekolah.


Film, buku, dan motel


Dampaknya tentu bisa ke mana-mana. Antara lain dalam memilih konsumsi
tontonan di TV yang masih berat dengan tayangan film barat dengan
budaya dan gaya hidup yang berbeda. Kehidupan dunia barat yang
digambarkan dalam film ataupun video, menurut Boyke, sering kali
menunjukkan kehidupan seks bebas di kalangan remaja. Tayangan serial
macam Beverly Hills atau Bay Watch, Boyke menyebut contoh, dengan
bintang-bintang molek dan tampan itu mudah sekali merasuk ke dalam
benak remaja. Sehingga mereka bisa amat mudah meniru gaya hidup muda-
mudi dalam film itu.


"Justru ketika informasi seperti itu tidak bisa kita hindari, peranan
orang tua untuk memberikan pengertian yang benar pada anak-anak
menjadi penting," tutur Boyke.


Minimnya pengetahuan seks masih ditambah lagi dengan mudahnya
mendapatkan prasarana untuk melakukan seks bebas seperti di motel,
cottage, vila; alat kontrasepsi; lebih mudanya rata-rata gadis
mendapatkan haid (9 - 11 th); serta tertundanya usia perkawinan.
Semua itu juga faktor yang ikut mempengaruhi remaja melakukan
kegiatan seks bebas dan kumpul kebo.


Celakanya, "Remaja yang sudah terbiasa mengadakan hubungan seksual
akan sulit menghentikannya," jelas Paat. Itu bukan semata-mata karena
faktor ketagihan, tapi terutama akibat timbulnya persepsi bahwa
melakukan hubungan seksual sudah merupakan hal biasa.


Dr. Gerard Paat


Kalau itu sampai terjadi, ortu harus ikut bertanggung jawab. "Orang
tualah yang seharusnya pertama-tama memberikan pengetahuan seks bagi
anak-anaknya. Informasi seks dari teman, film, atau buku, yang hanya
setengah-setengah tanpa pengarahan, mudah menjerumuskan. Apalagi
kalau si anak tidak tahu risiko melakukan hubungan seksual pranikah,"
kata Boyke.


Menurut Paat, pendidikan seks pasif, karena tanpa komunikasi dua arah
semacam itu, sudah bisa mempengaruhi sikap serta perilaku
seseorang. "Dalam pendidikan seks anak tidak cukup hanya melihat dan
mendengar sekali-dua kali, tapi harus dilakukan secara bertahap dan
berkelanjutan," katanya. Sebab itu, pendidikan seks hendaknya menjadi
bagian penting dalam pendidikan di sekolah. Orang tua dan pendidik
wajib meluruskan informasi yang tidak benar disertai penjelasan
risiko perilaku seks yang salah.


Namun, pendidikan seks di sekolah mestinya hanya pelengkap pendidikan
seks di rumah. Bukan justru menjadi yang utama seperti terjadi selama
ini, kendati pendidikan seks di sekolah, menurut beberapa pengamat
tadi, masih belum optimal.


Pacaran jangan dilarang


Pemberian pengetahuan seks mesti di rumah dilakukan sejak dini dan
dimulai dengan perilaku keseharian anak-anak. Ketika masih anak-anak
misalnya, berikan pengertian kepada mereka agar tidak ke luar dari
kamar mandi sambil telanjang, menutup pintu kamar mandi ketika sedang
mandi, mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk kamar ortu.


Ketika sudah menginjak bangku SD, remaja putri khususnya, mesti sudah
dipersiapkan menghadapi masa akil balik. Pada usia sekitar 14 tahun,
remaja putri maupun putra rata-rata mulai ingin tahu segala sesuatu
tentang lawan jenisnya. "Ini merupakan proses pendewasaan diri, dan
tak bisa dicegah," tegas Boyke. Di sinilah ortu mesti mulai lebih
sering mengadakan pendekatan dan memasukkan nilai-nilai moral kepada
anak.


Pada saat mereka mulai berpacaran di usia yang sudah cukup, kata
Boyke, tak perlu dilarang-larang. Berpacaran merupakan latihan
pendewasaan dan pematangan emosi. Dengan berpacaran mereka bisa
merasakan rasa rindu atau rasa memiliki, dan berlatih bagaimana harus
ber-sharing dengan pasangan. Pada masa ini orang tua remaja putri
hendaknya berperan menjadi teman berdiskusi sambil meneliti siapa
pacarnya itu.


Dalam hal ini dibutuhkan komunikasi lebih terbuka antara ortu-anak.
Melalui komunikasi, yang acap kali banyak diabaikan peranannya, ortu
dapat memasukkan hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
Misalnya, batas mereka boleh bermesraan dan apa konsekuensinya kalau
batas itu dilanggar. Kepercayaan dari ortu akan membuat mereka lebih
bertanggung jawab.


Berpacaran secara sembunyi-sembunyi akibat tidak diberi kepercayaan
justru tidak menguntungkan. "Ingat, kasus-kasus kehamilan pranikah
umumnya dilakukan oleh mereka yang back street," kata Boyke. "Mungkin
juga akibat hubungan dengan orang tua kurang akrab atau orang tua
terlalu kaku."


Dr. Paat maupun dr. Boyke menyatakan, penjelasan mengenai risiko
melakukan hubungan seksual pranikah perlu ditekankan. Umpamanya,
kehamilan, kemungkinan terinfeksi HIV atau tertular penyakit kelamin
kalau bergonta-ganti pasangan. Bila terjadi kehamilan dan kandungan
terpaksa digugurkan, mereka menghadapi kemungkinan perdarahan,
infeksi, kemandulan, bahkan kematian. Belum lagi stres atau rasa
berdosa yang bakal dihadapi si anak. Juga diingatkan, dengan anak
yang mereka lahirkan di luar nikah, mereka juga yang mesti
bertanggungjawab sebagai ayah dan ibunya. Jangan lupa pula, "Jagalah
agar jiwa mereka tidak banyak terganggu, apalagi selama mereka masih
belum dewasa, masih harus sekolah, dan lain-lain," tambah Yulia.


Kapan saja, di mana saja


Penjelasan yang baik mampu membuka mata mereka betapa melakukan
hubungan seksual pranikah itu tidak ada untungnya. Ini misalnya
terbukti ketika dr. Boyke membagikan kuesioner kepada peserta seminar
remaja. Jawaban mereka sebelum dan sesudah mendengarkan ceramah
bertolak belakang. Sebelum seminar, mereka rata-rata menyetujui
hubungan seksual sebelum nikah. Tapi sesudahnya, 90% peserta
menyatakan tidak setuju. Juga terungkap, mereka setuju adanya
pendidikan seks, hanya tidak tahu harus ke mana memperolehnya.


Penyampaian materi pendidikan seks di rumah sebaiknya dilakukan kedua
orang tua. "Sebelum usia 10 tahun pendidikan bisa diberikan secara
bergantian, tapi umumnya ibu yang lebih berperan," kata Paat.
Menjelang akil balik, saat sudah terjadi proses diferensiasi jenis
kelamin dan mulai muncul rasa malu (pada wanita mengalami haid,
pertumbuhan payudara, dan pada laki-laki mengalami mimpi basah dan
perubahan suara), sebaiknya ibu memberi penjelasan kepada anak
perempuan dan ayah kepada anak laki-laki. "Sekali waktu boleh
diadakan komunikasi silang. Misalnya, kepada anak perempuannya
seorang ayah dapat berdiskusi bagaimana perasaan-perasaan pria bila
jatuh cinta, atau sebaliknya kepada anak laki-lakinya, ibu bisa
mengungkapkan bagaimana perasaan seorang wanita bila didekati pria."


Menjelaskan tentang seks juga tidak perlu secara eksklusif. Itu bisa
dilakukan kapan saja dan di mana saja. Saat sedang sibuk memasak,
misalnya, tiba-tiba si anak bertanya tentang kehamilan. Sang ibu
tidak perlu menangguhkan jawaban atau menjanjikan jawaban akan
diberikan panjang lebar di kamar, tapi bisa langsung saat itu juga.
Tindakan eksklusif, menurut Paat, malah membuat si anak bisa
berkesimpulan, seks merupakan sesuatu yang luar biasa dan harus
dirahasiakan. Padahal pertanyaan seperti itu lumrah dan merupakan
bagian dari kehidupannya.


"Kalau anak kita sama sekali tidak pernah bertanya soal seks, jangan
dikira pasti beres. Coba pancinglah dengan buku," jelas
Paat. "Keterangan dalam buku yang kurang jelas bisa didiskusikan
dengan orang tua," tambah Boyke.


Di RT pun bisa


Pendidikan seks di sekolah, demikian Yulia dan Paat, hendaknya tidak
terpisah dari pendidikan pada umumnya, dan bersifat terpadu. Ia bisa
dimasukkan ke dalam pelajaran ilmu biologi, kesehatan, moral dan
etika secara bertahap dan terus menerus. Mereka juga mensyaratkan
penekanan pada pendidikan moral, meski tidak perlu sedetail
pendidikan agama, agar pendidikan seks diterima murid sebagai suatu
ilmu yang tidak untuk dipraktekkan sebelum waktunya.


Sekali waktu penyuluhan seks juga perlu diadakan. Misalnya, soal
menghadapi masa haid dan mimpi basah bisa diberikan kepada anak kelas
VI SD, proses terjadinya bayi (spermatozoa bertemu dengan sel telur)
mulai diberikan kepada murid SLTP. Selanjutnya masalah kebebasan
seks, alat kontrasepsi sampai hubungan seks (bukan tekniknya)
diberikan kepada anak SLTA.


Menurut Yulia, penjelasan tentang program pendidikan seks yang hendak
disampaikan kepada murid perlu juga diketahui orang tua murid.
Maksudnya, agar mereka bisa memberi jawaban dan tidak terkejut bila
tiba-tiba si anak atau remaja bertanya soal seks kepada
mereka. "Karena, kadang-kadang ada anak yang dengan begitu bangga
bercerita tentang pengetahuan seks yang baru diberikan di sekolah,"
tutur Yulia.


Dr. Paat dan dr. Boyke saling berbeda pendapat dalam soal penyampaian
informasi tentang alat kontrasepsi. "Alat kontrasepsi macam kondom
bukan rahasia lagi, karena dapat dibeli di mana-mana. Yang penting,
mereka diberi penjelasan bahwa pemakaian sebelum menikah merupakan
pelanggaran nilai-nilai moral dan agama," kata Paat. Sedangkan Boyke
kurang setuju memperkenalkan pemakaiannya kepada remaja, karena
khawatir disalahgunakan.


Lebih tepat, kata Paat, kalau tema penyuluhan didasarkan pada
pendekatan pemecahan masalah (problem solving approach), yakni
penyuluhan disertai kesempatan berkonsultasi dengan guru, konsultan
psikologi di sekolah, atau guru agama. Pasalnya, masalah yang
dihadapi setiap murid berbeda-beda.


Dalam hal ini Dra. Yulia menganggap penting peran guru bimbingan dan
penyuluhan (BP). Guru-guru ini tak cuma sebagai guru BP, tapi juga
mesti tahu soal pendidikan seks. "Kadang-kadang murid segan bertanya
kepada orang tua. Atau, pernah bertanya malah dimarahi bapak atau
ibunya," jelas Yulia. Dengan adanya kesempatan berkonsultasi, si anak
bisa mengutarakan masalah pribadinya.


Selain di sekolah, "Di tingkat RT pun sebetulnya bisa sekali waktu
diselenggarakan ceramah tentang seks bagi para orang tua atau remaja
dengan bantuan dokter Puskesmas untuk mengisi kekosongan itu," kata
Boyke.


Usul itu boleh juga. Bagaimanapun pendidikan seks bukan semata-mata
tanggung jawab orang tua dan pendidik, tetapi juga masyarakat.
(Nanny Selamihardja/I Gede Agung Yudana)

by :Ida arimurti

Antara aku dan kamu adalah satu...


Antara aku dan kamu adalah satu...
kenapa ungkapan diatas muncul????caileee kaya hantu aja maen muncul seenaknya....ga ko, itu cuma ungkapan kecl aja dari aku yang ingin mengataklan bahwa kita sebenarnya dalah makhluk aneh yang suka so'sial (sosisl gitu loh) yang selalu membutuhkan satu sama laen. karena perlau kawan-kawan ketahui bahwa apa yang disebut dengan sahabata atau fren atau apalah yang biasa kita pake itu memiliki arti yangsanagt penting..toh pada dasarnya kita hidup ga sendiri alias punya teman yang selalu kita buithkan dlam menata kehidupan kita. betul ga?? so pasti khan.....tapi sebenarnya apa sih makna kebersamaan itu sendiri? menurut Prof.Zeeya,,kebersamaan adalah suatu proses langkah awal dan akan terus berkesinambungan sampai kapanpun manusia itu hidup baik dalam keadaan suka maupun duka pasti dibutuhkan yang namanya pendamping atau fren..karena tidaka bisa kita pungkiri bahwa apa yang menajdi ketenangan dan kepuasan seseorang adalah ketika dia mampu dan telah mengutarakan a[pa yang ada dalam hati, pikiran dan perasaan yang bagi dia selalu menggganjal dan menggganggu......oce????...

arti sahabat



Persahabatan Itu Penting

AWAL sekolah nih. Teman penting banget untuk membantu kita melewati hari-hari. Apalagi sahabat. Tanpa sahabat hidup tak akan terasa indah. Tapi gara-gara sahabat pula, hidup kita bisa bertambah suram.

SEBENARNYA, apa sih arti sahabat bagi kita? Bagi sebagian orang sahabat dapat berarti orang yang bisa dipercaya dan diandalkan. "Seseorang yang dapat membantu dan mengerti kita, begitu juga sebaliknya," ungkap Manda, seorang siswi SMA Cakra Buana, Jakarta. Hortacsu dalam risetnya yang berjudul "Target Communication During Adolesence" mengatakan bahwa dalam berteman kebutuhan utama remaja adalah berbagi minat. Tapi kemudian semakin lama kebutuhan itu berkembang menjadi kebutuhan berbagi beban pikiran, perasaan, dan juga rahasia. Seperti ceritanya Ramdan, seorang siswa di SMA Negeri 65, Jakarta, "Awal pertemanan gue yaitu waktu sekelas di kelas satu SMA. Terus suka nge-band bareng. Kita sama-sama suka aliran musik rock. Akhirnya kita suka jalan bareng dan sering curhat."

Yupe, dengan hadirnya seorang teman dekat, kita enggak akan pernah merasa kesepian. Wah, ternyata kalau dipikir-pikir seorang sahabat adalah manusia super juga ya! Dia bisa membuat hidup kita menjadi lebih mudah dan lebih berwarna! Lebih dari itu, melalui sahabat kita bisa bercermin, sebenarnya orang yang seperti apakah kita? "Masa remaja adalah masa pencarian jati diri, dan sahabat bisa membantu mereka untuk menemukan identitas sosialnya melalui interaksi dalam peer group," kata Dra Ratna Djuwita Dipl Psych, seorang pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Untuk para cewek, fungsi sahabat lebih emosional dan lebih dalam. Karena cewek-cewek lebih senang membagi cerita dan rahasianya kepada sang sahabat. Cewek cenderung menginginkan kehadiran "fisik" sang sahabat di sampingnya. Sedangkan untuk cowok fungsi sahabat ini lebih ke orang yang bisa jalan bareng dan hang out bareng.

"Single fighter"

Meskipun punya sahabat itu penting untuk kita di usia remaja, ada juga yang ke mana-mana selalu terlihat sendirian. Pokoknya single fighter banget deh! Apa mereka enggak membutuhkan teman? Well, kadang itu bukan berarti mereka enggak membutuhkan teman. "Hal tersebut bisa merupakan efek dari orangtua yang terlalu protektif sehingga anak-anak tidak mengetahui bagaimana cara bergaul. Akhirnya mereka tumbuh jadi remaja yang terbiasa sendiri dan sudah cukup nyaman dengan hanya ber-’solo karier’ dalam pergaulan," jelas Bu Ratna. Kemungkinan lainnya adalah seseorang sudah terbiasa dengan aturan-aturan sosial tertentu (di luar negeri contohnya) lalu ketika dia pindah, dia merasa sulit untuk beradaptasi dengan lingkungannya yang baru. Jadilah dia sendirian melanglang buana.

Terus ada bedanya enggak sih orang yang tumbuh bersama sahabatnya dengan yang happy sendirian saja? Bu Ratna mengiyakan, "Yang jelas terlihat berbeda adalah kemampuan sosialnya. Orang yang mempunyai sahabat akan cenderung lebih mudah berinteraksi dengan orang lain dibandingkan dengan orang yang penyendiri."

Orang-orang supel ini akan lebih terlatih untuk menghadapi bermacam-macam karakter orang karena ia sudah terlatih untuk melakukannya. Sementara orang yang sendirian akan cenderung menuntut orang lain yang beradaptasi dengan karakternya. Itu disebabkan si penyendiri hanya mempunyai satu jenis respons terhadap berbagai macam jenis sifat. Misalnya kalau orang yang supel bisa membuat si pemalu merasa lebih nyaman ngobrol dengannya. Sementara si penyendiri cenderung terus diam ketika berada di tengah orang-orang yang mempunyai karakter yang berbeda. Dilihat dari dua kenyataan tersebut, rasanya lebih menyenangkan menjadi orang yang fleksibel ya!

Sahabat dan konflik

Sebenarnya bersahabat itu enggak susah kok! Tapi di dalam hubungan antara dua individu yang berbeda, kayaknya enggak mungkin bisa berjalan mulus begitu saja. Biar hanya sedikit, konflik pasti muncul. Begitu juga dalam persahabatan. Masalah yang memicu berantem pun macam-macam. Mulai dari urusan gebetan, rahasia yang bocor, gosip, sampai masalah sepele seperti celetukan-celetukan yang "enggak pada tempatnya". Apa sih yang biasanya diributin para cowok? "Dulu pernah ada konflik di antara dua sobat gue. Mereka memperebutkan satu cewek. Berhasil diselesaikan kok. Kita diskusi ramai-ramai. Akhirnya mereka berdua sama-sama ngalah. Enggak ada yang dapetin cewek itu," kata Ramdan.

Sementara masalah yang biasa dihadapi Manda dan teman-temannya berbeda. "Gara-garanya ada salah paham. Biasanya konflik itu timbul gara-gara teman ingkar janji, lupa janji, atau ngomong nyakitin. Cuma denger teman ngomong, ’Ya elah gitu doang’, atau ’Gue juga bisalah’, kayaknya sudah cukup bikin nyolot deh kalau sering diomongin," jelas Manda. Biasanya, problem yang biasa dihadapi Manda and the gang-nya ini kelar ketika salah satu mengalah duluan.

Karena konflik enggak bisa dihindari, makanya penting kalau kita tahu bagaimana cara mengantisipasinya supaya masalah enggak berkepanjangan! Nah, ternyata ada perbedaan antara cewek dan cowok dalam menghadapi konflik persahabatan. "Gue punya beberapa teman dekat. Ketika kita sedang ada konflik, kita lebih menceritakan di mana keberatannya. Nanti dibahas," cerita Ramdan. Ternyata cowok punya kecenderungan untuk memilih menghadapi masalah secara langsung.

Gimana dengan cewek? "Cewek cenderung menyampaikan unek-unek di hatinya secara enggak langsung. Tapi seringnya informasi yang disampaikan menjadi kurang lengkap dan akhirnya masalah bukannya selesai tapi malah jadi berlarut-larut," ungkap Bu Ratna.

Ini juga diakui oleh Manda. "Kita sampai diam-diaman cukup lama. Tapi akhirnya aku yang minta maaf duluan," katanya. Makanya enggak heran kebanyakan cewek kalau lagi ngambek dengan teman-temannya sering "perang dingin", adu gengsi enggak saling tegur, enggak menelepon atau menyapa selama berhari-hari.

"Dalam menyelesaikan konflik ini lebih baik kita bertindak asertif, yaitu mengatakan dengan jujur di mana permasalahannya secara baik-baik," tambah Bu Ratna. Segalanya bisa diomongin dengan baik, kan?

Belajar toleran

Banyak hal-hal positif yang bisa kita dapatkan dalam bersahabat. Di antaranya kita jadi belajar untuk menghargai orang lain, belajar bertoleransi dan bekerja sama. Lewat sahabat ini kita juga menjadi lebih mengetahui tentang diri kita sendiri. "Gue merasa tambah dewasa dalam mengambil keputusan, terus gue jadi enggak emosian. Gue punya orang yang bisa dimintai saran. Gue enggak lagi suka berantem. Karena ada teman-teman yang nasehatin. Padahal, waktu SMP gue sering berantem, lho," cerita Ramdan.

Tapi jangan kira enggak ada sisi negatif dalam pertemanan karena peer group yang enggak baik akan bisa membawa kita menjadi enggak baik pula. Jangan remehkan kekuatan aturan dan norma yang berlaku dalam hubungan peer group. "Bagi remaja, sahabat adalah segala-galanya. Malah terkadang lebih baik untuk menyalahi nilai-nilai yang dianutnya daripada tidak mengikuti nilai-nilai dalam peer group," jelas Bu Ratna.

Jadi bisa saja seseorang bisa saja sudah merasa tidak nyaman dengan hal-hal yang terjadi dalam peer group-nya, namun ia tidak berdaya untuk menolaknya. "Gue jadi suka ikut-ikutan teman. Diajak bolos, gue mau. Nilai-nilai gue juga turun. Soalnya gue kebanyakan main," curhat Ramdan. Dalam lingkup yang lebih luas, efek social pressure ini juga bisa enggak baik. Misalnya saja gencet-gencetan dalam lingkungan sekolah. Orang yang sebenarnya enggak suka menggencet akhirnya jadi penggencet karena teman-temannya suka menggencet adik kelas. Emang sih ini bikin para adik kelas lebih solid dalam angkatannya. Tapi, efek negatifnya para adik kelas ini akhirnya jadi angkatan penggencet karena unsur balas dendam.

Parahnya lagi gara-gara menuruti aturan kelompok, hal-hal negatif ini akhirnya dipandang sebagai sesuatu yang wajar sehingga enggak ada yang merasa bersalah. Padahal bisa saja ada orang lain yang merasa terteror dan akhirnya terjebak masa depan suram! Seperti, kecanduan narkoba gara-gara disuruh teman. Waduh! Jelas ini harus dihentikan! Bukannya lebih enak kalau kita semua berteman dalam suasana yang happy ya?

Terus, gimana caranya supaya kita enggak terjerumus pertemanan tidak sehat ini? Bu Ratna punya jurus ampuh. Caranya adalah tetap kritis dalam memandang segala hal termasuk hubungan pertemanan kita sendiri. Jangan mau ikut-ikutan saja! Jangan hanya karena kita sudah susah payah masuk ke suatu geng yang populer, kita merasa terpaksa melakukan hal-hal yang enggak kita suka karena kita enggak mau dibilang "cupu" atau "enggak asyik".

Hey guys, ada hal-hal yang enggak bisa ditolerir, bahkan dalam pertemanan. Misalnya narkoba. Jadi kalau ada sahabat kita yang menawarkannya, hanya satu jawabannya: No!

So, pastikan kita enggak salah pilih teman. Dan mumpung kita sebentar lagi memasuki "episode" baru dalam tahun ajaran baru, bertemanlah sebanyak mungkin karena persahabatan itu indah!

NINA SETIAWATI/ TRINZI MULAMAWITRI/ EKA ALAM SARI Tim MUDA (www.kompas.com)